BPBD Metro Mulai Lakukan Mitigasi

BPBD Metro Mulai Lakukan Mitigasi

yakusanews.com

METRO — Tidak ingin sekadar menjadi pemadam kebakaran saat bencana terjadi, BPBD kini menggeser pendekatan ke arah mitigasi dini meski dihadapkan pada keterbatasan anggaran dan sarana.

Kepala BPBD Kota Metro, Renan Joko Sajarwo, menegaskan bahwa pihaknya telah menerima instruksi langsung dari Sekretaris Daerah (Sekda) untuk segera bergerak melakukan pemetaan risiko di seluruh wilayah.

“Untuk mengantisipasi El Nino ini, kami dari BPBD Kota Metro telah diperintahkan oleh bapak Sekda Kota Metro untuk segera melakukan mitigasi bencana di setiap kecamatan dan kelurahan di Kota Metro,” katanya, Senin (20/4/2026).

Langkah awal akan difokuskan di Kecamatan Metro Selatan. BPBD akan menurunkan kombinasi kekuatan personel, terdiri dari lima petugas inti dan delapan relawan di wilayah tersebut. Model ini, menurut Renan, akan menjadi prototipe sebelum diperluas ke kecamatan lain.

Namun, yang menarik, pendekatan yang dilakukan BPBD kali ini tidak lagi reaktif. Mereka mulai membidik sumber-sumber potensi bencana yang selama ini kerap luput dari perhatian.

“Petugas tidak hanya bertindak saat terjadi peristiwa atau pasca bencana, tapi juga melakukan antisipasi. Misalnya terhadap pohon-pohon yang rawan tumbang yang terlalu rimbun, lapuk, kering, atau condong ke jalan,” jelasnya.

Selain itu, BPBD juga akan melakukan pemetaan menyeluruh terhadap titik-titik rawan banjir dan potensi angin puting beliung. Langkah ini dinilai krusial mengingat perubahan pola cuaca akibat El Nino kerap memicu anomali yang sulit diprediksi.

Tak hanya faktor alam, persoalan klasik perkotaan seperti buruknya sistem drainase juga menjadi perhatian serius. Saluran air yang tersumbat, dangkal, dan tertutup sedimen dinilai menjadi salah satu pemicu utama banjir genangan di sejumlah wilayah Metro.

“Drainase yang tersumbat dan saluran air yang dangkal juga menjadi prioritas untuk didata. Setelah itu akan kami tindaklanjuti dengan koordinasi dan kolaborasi bersama OPD terkait,” tegasnya.

BPBD juga mulai mengantisipasi dampak lain yang kerap menyertai El Nino, yakni kekeringan yang berpotensi mengganggu kebutuhan air bersih masyarakat.

“Selain itu, kami juga mengantisipasi potensi kekeringan akibat El Nino, terutama di wilayah-wilayah yang rawan kekurangan air bersih. Kami akan melakukan pendataan titik-titik rawan kekeringan dan menyiapkan langkah-langkah penanganan, termasuk koordinasi untuk distribusi air bersih jika dibutuhkan,” ungkap Renan.

Namun di balik langkah progresif tersebut, BPBD tidak menutup mata terhadap persoalan mendasar yaitu keterbatasan anggaran. Kondisi ini kerap menjadi batu sandungan dalam optimalisasi penanggulangan bencana, khususnya dalam hal operasional dan pengadaan alat.

“Meskipun terdapat keterbatasan berkaitan dengan anggaran operasional, kami akan tetap berupaya semaksimal mungkin untuk berkoordinasi dan berkolaborasi lintas sektor,” katanya.

Ia juga memastikan bahwa kekurangan peralatan akan diupayakan pemenuhannya secara bertahap, termasuk kendaraan operasional hingga alat pendukung seperti gergaji mesin (chainsaw) untuk penanganan pohon tumbang.

Di tengah situasi ini, langkah BPBD Metro bisa dibaca sebagai sinyal pergeseran paradigma dari penanganan ke pencegahan. Namun pertanyaannya, seberapa jauh komitmen lintas Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dapat menopang kerja BPBD yang kini dituntut lebih proaktif.

Jika mitigasi hanya berhenti pada pendataan tanpa aksi konkret, maka upaya ini berisiko menjadi rutinitas administratif semata. Sebaliknya, jika kolaborasi benar-benar berjalan, Metro berpeluang keluar dari siklus tahunan bencana yang selama ini kerap berulang tanpa solusi tuntas. (•)

Share

Tinggalkan Balasan

id_IDBahasa Indonesia