Yakusanews.com
METRO – Ketua Divisi Kaderisasi Dan Pengembangan SDM Pimpinan Majelis Daerah Korp Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (PMD KAHMI) Kota Metro Erwin Effendi.SE.AK Sebut FPN adalah Indentitas Budaya Dan Pengingat Sejarah Berdirinya Kota Metro. Rabu, 25 Mei 2022.
Erwin Mengatakan bahwa Telah kita ketahui bersama bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Metro akan menggelar Perayaan Hari Jadi Kota Metro Ke-58 dengan menyematkan Nama Festival Bumi Sai Wawai yang akan dimulai Pada 9 sampai 13 Juni 2022 mendatang.
Tapi Hal ini Justru menjadi pergolakan di kalangan para Tokoh adat, Penggiat budaya serta warga Kota Metro yang mana penamaan Festival Bumi Sai Wawai dianggap tidak menghargai perjuangan suku Lampung di Kota Metro, Jelas Pria yang biasa di panggil Batin itu.
Selain daripada itu, perubahan nama tersebut juga akan berdampak menenggelamkan budaya serta hilangnya ingatan sejarah yang menjadi identitas kota metro itu sendiri.
Kemudian terang Erwin, Bagi para pengingat sejarah hal ini tentu sangat mengejutkan, karena Festival Putri Nuban (FPN) yang kita tahu dan sudah di tanamkan pula oleh kepala kepala daerah terdahulu sebagai pengingat akan sejarah kota metro dan sebagai bentuk penghargaan terhadap para pejuang terdahulu, Sekarang akan hilang dengan perubahan nama menjadi Festival Bumi Sai Wawai yang tanpa makna!!
Seluruh kalangan masyarakat memang tahu kok bahwa tidak ada bumi yang tak wawai, ketus Erwin.
Lanjutnya, Perubahan nama tentu akan merubah pandangan karena
Jika kita bilang nama, dan nama itu berubah jelas berpengaruh. Dan Ketika dirubah namanya, ini akan menjadi kerancuan budaya Bagi Kota Metro ini.
Coba Dilihat dalam Agenda pelaksanaan Perayaan Hari Jadi Kota Metro Itu, tentunya setelah pembukaan ya! kata Erwin, Acara pertama itu Pemberian Gelar Adat, Untuk siapa? Ya pasti untuk pak walikota dong. Terus kenapa harus dirubah rubah Nama yang bermakna sejarah nya tinggi sih, yang tanpa disadari justru bisa menghilangkan Indentitas budaya sekaligus sejarah tentang Kota Metro ini? Jelasnya.
Mungkin perlu Sedikit saya ceritakan kepada Bapak Walikota Metro Yang terhormat yang telah membuat kota metro ini selalu ceria, tentang sejarah kota metro dan sekaligus untuk mengingatkan kita semua.
Kelahiran Kota Metro bermula dengan dibangunnya sebuah induk desa baru yang diberi nama Trimurjo.
Dibangunnya desa ini dimaksudkan untuk menampung sebagian dari kolonis yang didatangkan oleh perintah Hindia Belanda pada tahun 1934 dan 1935, serta untuk menampung kolonis-kolonis yang akan didatangkan berikutnya.
Pada zaman pelaksanaan kolonisasi, dimana terdapat lima onder distrik, mendapat rencana pengairan teknis yang bersumber dari Way sekampung yang pelaksanaannya dilaksanakan oleh para kolonisasi-kolonisasi yang sudah bermukim di onder distrik yang biasa disebut bedeng-bedeng dimulai dari Bedeng 1 bertempat di Trimurjo sampai Bedeng 67 di Sekampung, yang kemudian nama bedeng tersebut diberi nama! contohnya Bedeng 21, Yosodadi.
Kedatangan kolonis pertama di desa Trimurjo yaitu pada hari Sabtu tanggal 4 April 1936 dan ditempatkan pada bedeng-bedeng kemudian diberi penomoran kelompok bedeng, yang mana sampai saat ini istilah penomorannya masih populer dan masih dipergunakan oleh masyarakat Kota Metro pada umumnya.
Jika Orang datang ke kota metro maka akan menemukan daerah dengan istilah angka-angka/bedeng, yaitu:
• Bedeng 1, bedeng 4, bedeng 5, bedeng 10 : untuk menyebut wilayah di kelurahan Trimurjo,
• Bedeng 2, bedeng 3 : untuk menyebut wilayah di kelurahan Adipuro,
• Bedeng 6c, 6 polos, 6b, 6d : untuk menyebut wilayah di kelurahan Liman Benawi,
• Bedeng 7a, 7c, 8 : untuk menyebut wilayah di kelurahan Depokrejo,
• Bedeng 11a, 11b, 11c, 11d, 11f : untuk menyebut wilayah di kelurahan Simbarwaringin,
• Bedeng 12a, 12b, 12c, 12d : untuk menyebut wilayah di kelurahan Tempuran,
• Bedeng 13a, 13 polos, 20 : untuk menyebut wilayah di kelurahan Purwodadi,
• Bedeng 14-1, 14-2, 14-3, 14-4 : untuk menyebut wilayah di kelurahan Ganjaragung dan Ganjar asri,
• Bedeng 15a, 15 polos: untuk menyebut wilayah di kelurahan Iringmulyo,
• Bedeng 16a, 16b, 16d : untuk menyebut wilayah di kelurahan Mulyosari,
• Bedeng 16c : untuk menyebut wilayah di kelurahan Mulyojati
Bedeng 17a, 17 polos, 18, 19: untuk menyebut wilayah kelurahan Untoro,
• Bedeng 21a, 21 polos: untuk menyebut wilayah kelurahan Yosodadi,
• Bedeng 21c : untuk menyebut wilayah kelurahan Yosomulyo,
• Bedeng 22 : untuk menyebut wilayah kelurahan Hadimulyo,
• Bedeng 23: untuk menyebut wilayah kelurahan di Metro Utara,
• Bedeng 24 : untuk menyebut wilayah di kelurahan Tejosari dan Tejoagung,
• Bedeng 25, 26: untuk menyebut wilayah di kelurahan Margorejo,
• Bedeng 27: untuk menyebut wilayah di kelurahan Sumbersari,
• Bedeng 28, 29: untuk menyebut wilayah di kelurahan Purwosari,
Bedeng 30-67: untuk menyebut wilayah di daerah Batanghari dan Sekampung.
Bedeng di Kota Metro kini sering disebut juga dengan sebutan Distrik yang membuat semakin menguatkan akan kentalnya sejarah bekas kolonisasi penjajahan Belanda di kota ini. Di Kota Metro banyak masyarakat yang menyebutkan nomor bedeng/distrik tersebut dikarenakan lebih mudah dan familiar.
Setelah ditempati oleh para kolonis dari pulau Jawa, daerah bukaan baru yang termasuk dalam kewedanaan Sukadana yaitu Buay Unyi dan Buay Nuban berkembang dengan pesat. Daerah ini menjadi semakin terbuka dan penduduk kolonis pun semakin bertambah, sehingga kegiatan perekonomian mulai berkembang.
Dimana Akhirnya Berdasarkan keputusan rapat Dewan Marga (Penyimbang Adat) tanggal 17 Mei 1937, sebagai bentuk sebuah penghormatan kepada kolonial maka daerah kolonisasi ini diberikan kepada kolonis dengan melepaskannya dari hubungan marga (Kebuayan).
Dan pada Hari selasa tanggal 9 Juni 1937 nama desa Trimurjo diganti dengan nama Metro. Maka Tanggal 9 Juni inilah yang menjadi dasar penetapan Hari Jadi Kota Metro, sebagaimana yang telah dituangkan dalam perda Nomor 11 Tahun 2002 tentang Hari Jadi Kota Metro.
Jadi, Jelas bahwa Festival Putri Nuban (FPN) itu adalah sebagai bagian dari identitas Budaya sekaligus pengingat sejarah bagi kota metro, bukan hanya sekedar perayaan atau perhelatan semata.
Karena itu, harapan kita semua kiranya bapak Walikota metro dapat kembali menggunakan Identitas Budaya kota metro dalam pelaksanaan perayaan Hari jadi Kota Metro nanti, dimana akan memberikan pengajaran pula tentunya bagi generasi generasi muda di Kota Metro, Baik Itu Putra Asli Daerah ataupun pendatang. (Rls)
